Senin, 04 Oktober 2010

Manunggaling Kawula Gusti



Syekh Siti Jenar merupakan nama yang menyimpan sejuta misteri. Hingga kini teka teki tersebut belum pernah terjawab. Apakah Syekh Siti Jenar itu memang benar benar ada sebagai Wali Ma’rifat atau hanya sekedar pitutur luhur simbol-simbol ajaran kearifan masyarakat Jawa. Namun dalam ringkasan ini kami tidak mengkaji sisi historisnya tetapi kami mengkritisi ajarannya yang tersirat dalam sastra Jawa yang disugukan pada acara MOCOPAT

Widhatul Wujud / Manunggaling Kawulo Gusti

Apabila diakui bahwa Syekh Siti Jenar itu seorang wali ma’rifat, maka ajaran Ma’rifat yang dikembangkanya bukanlah suatu ajaran baru danbanyak dipengaruhi toko Sufi sebelumnya yang berasal dari dataran Arab yaitu Mansyur Al Hallaj. teori dari mansyur al Hallaj yang terkenal Al Hulull ( Tuhan mengambil tempat pada diri manusia ), kalau pada teori Siti Jenar adalah Widhatul Wujud , ( pada saat tertentu manusia bisa menyatu dengan Tuhannya ) , jadi kalau dilihat dari kedua teori tersebut sepertinya ada kesamaan bahwa pada saat saat tertentu manusia seolah olah merasakan dapat bersatu dengan Tuhannya .
Sesungguhnya konsep tesebut tidak dikenal dalam ajaran Islam , konsep tersebut hanyala pengaruh dari tradisi pemikiran yang ada , namun para sufi berkayakinan bahwa kita bisa memperoleh pengetahuan bukan hanya dari panca indra seperti yang ditempuh oleh para Filsuf dan Teolog . melaikan dengan hati nurani.

Konsep Kematian Syekh Siti Jenar

Menurut pandangan yang diyakini bahwa dunia ini alam kematian, setelah jasad ditinggal nyawa itulah awal kehidupan yang sebenarnya. Amat megherankan jika manusia berfikir siang dan malam dalam alam kematian itu mengharap permulaan hidup, sesungguhnya manusia hidup di dunia ini banyak mengalami neraka kesengsaraan, kepanasan, kedinginan , serta kesedihan tidak demikian apabila manusia hidup sesudah mati manusia akan hidup mulia mandiri tidak memerlukan media ayah ibu ia berbuat menurut keinginannya sendiri tiada berasal dari angina , air ,tanah , api atau semua yang serba jasad. Ia tidak menginginkan atau dikenai kerusakan apapun , karena itu apa yang disebut dengan Allah ( nama ) ialah barang baru yang direka reka menurut pikiran manusia.

Selasa, 29 Juni 2010

PERMOHONAN MAAF KEPADA SAUDARA2Q TN

Assalamualaikum WrWb, saudara2 Q dimna saja berada baik murid ataupun bukan murid dari tuan guru syeh Moh. Harun Sudji Tajul Arifin Al Makasari II,
Saya hanya ingin meminta maaf secara sadar maupun tidak, atas kesalahan yang mungkin telah saya perbuat.
Akan tetapi saya ingin menjelaskan bahwa saya menyebut Bapak Hamdani dengan sebutan guru syeh Hamdani berarti tidak jadi masalahkan?? Karena atas jasa beliau mengentaskan saya dari problem hidup dan membimbing saya untuk mengenal dan bertemu dengan Allah Azza Wajalla.
Untuk Nama Beliau SYEH HAMDANI BIN SYEH H. MOH HARUN BIN SUDJI TAJUL ARIFIN AL MAKASARI II Saya Ingin Meralatnya dengan Nama SYEH HAMDANI MURID DARI SYEH H. MOH HARUN BIN SUDJI TAJUL ARIFIN AL MAKASARI II.
Jadi saya pribadi selaku makhluk yang tidak luput dari salah dan khilaf memohon maaf kepada saudara2Q dari kalangan Tarekat Naqsyabandiyah Al kholidiyah khususnya yang dibawa oleh Tuan Guru Syeh H. MOH HARUN BIN SUDJI TAJUL ARIFIN AL MAKASARI II yang mungkin karena hal nama ini, mempunyai banyak persepsi dan pendapat yang bermacam2.
Kesimpulannya, jika saudara2Q ingin mencari dan menggali lebih dalam lagi silahkan datang langsung kepada murid beliau almarhum tuan guru H. MOH HARUN BIN SUDJI TAJUL ARIFIN AL MAKASARI II yang beralamatkan di: Desa Harapan Makmur depan sekolah SD, Kecamatan Kurik, Kabupaten Merauke, Papua, Indonesia. Sukron, Waslam

Rabu, 23 Juni 2010

TaK UsAh BinGuNG DeNgAn KeBeRAdaAn MuRSyid??

AssWrWb, saudara2Q dari kalangan tarekat Naqsyabandiyah al - kholidiyah dari Tuan Guru Syeh Moh. Harun Sudji Tajul Arifin Al Makasari II.
Saat ini saya cuma ingin menegaskan bahwa sesungguhnya, Tuan Guru Syeh Hamdani Al Jawani Kurik tidak pernah menganggap dirinya pewaris tunggal atau guru. Akan tetapi, semua bisa dibuktikan antara lain: bisa ditanyakan langsung kepada saksi hidup yang tidak dusta, atau bila perlu tanyakan langsung kepada Makam Beliau tuan guru Syeh Moh. Harun Sudji Tajul Arifin Al Makasari II di Makasar.
Panggilan guru kepada tuan syeh Hamdani berasal dari murid2nya yang merasakan perubahan2 dalam diri orang tersebut dan ter entaskan problem hidupnya.
Jadi, Perlu saya tegaskan dan saya garis bawahi bahwa tidak ada unsur PENIPUAN dan yang lainnya.
Semua murni karena Allah SWT.
Kesimpulannya: Mari berlomba2 untuk menjadi manfaat dan maslahat sesuai pesan almarhum, bukan saling tuding menuding dan saling makan memakan sesama saudara, karena Almarhum akan menangis disana.
Mudah2an wacana ini bermanfaat kepada anda2 semua yang ingin membaca.

Kalau ingin memperjelas, silahkan call di no :085244194203, wls 
   

Jumat, 21 Mei 2010


SYEH HAMDANI AL JAWANI KURIK BERSAMA UMI YUNI SHOLEHA












 
JAMA'AH TAREKAT NAQSYABANDIYAH AL - KHOLIDIYAH KURIK

Jumat, 02 April 2010

DEFINISI TASAWWUF

ARTI TASAWUF
Dari dahulu sampai sekarang tidak ada kesepakatan tentang arti kata tasawwuf. Ada yang mengatakan berasal dari kata shafw artinya bersih, atau shafa artinya jernih. Ada pula yang berpendapat bahwa kata tasawwuf berasal dari kata shuffah, yaitu nama suatu kamar disamping mesjid Rasulullah di Madinah.
Menurut syekh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa Al-Fathani dalam bukunya “ Hadiqatul Azhar ” bahwa arti tasawwuf ialah memakai shuf , artinya bulu. Karena pada zaman dahulu orang-orang yang memasuki tasawwuf pada umumnya mereka memakai baju atau pakaian yang terbuat dari bulu. Mereka tidak mau menyerupai kebanyakan orang yang selalu bermegah-megahan dengan pakaian yang serba indah.
Dan menurut istilah haqiqat, arti tasawwuf itu ialah ber-akhlak mulia dengan segala perangai ath-thaifatush shufiyah, dan bertawasul dengan segala sifat mereka, sehingga mempererat hubungan sesama mereka, dan mereka dekat kepada Allah.
Ahli Shufi terkenal Junaid Al-Baghdadi pernah berkata tentang tasawwuf: “ mati dan hidupmu adalah ditangan Allah ”.
Ada yang berkata bahwa tasawwuf dapat diartikan: “ Berpegang kepada adab yang didasarkan kepada syara’, baik lahir maupun batin ”. Dan dapat pula diartikan “ kesempurnaan manusia adalah dengan Islam, Iman, dan Ihsan. Disamping itu pula ada yang berkata: “ Berserah diri kepada Allah atas segala kehendaknya ”.


Tidak sedikit para ahli memberikan ta’rif tentang tasawwuf , diantaranya:
• Bisyar al-Hafi berkata : “ Seorang Shufi ialah orang yang telah bersih hatinya semata-mata untuk Allah ”.
• Bardar bin Husin berkata : “ Shufi adalah orang yang telah memilih Al-Haq (Allah) semata-mata untuk dirinya ”.
• Syekh Ma’ruf al-Karakhi berkata : “ Tasawwuf ialah mengambil haqiqat, dan putus asa dari apa yang ada dalam tangan sesama makhluk ”.
• Abu Muhammad Al Jurairi menyatakan : “ Tasawwuf ialah masuk ke dalam akhlak menurut contoh yang ditinggalkan Nabi dan keluar dari akhlak yang rendah ”.
• Suhail bin Abdullah al-Tustari berkata : “ Orang Shufi ialah yang bersih dari kekeruhan, penuh dengan fikiran, putus dengan manusia karena menuju Allah, dan sama saja baginya harga emas dengan harga pasir.

SYARIAT, HAQIQAT, DAN THARIQAT

SYARIAT, HAQIQAT, DAN THARIQAT
Didalam kitab yang berjudul “ Al-Futuhatul Ilahiyyah ” Syaikhul Islam menjelaskan perbedaan antara syariat, haqiqat, dan thariqat, yaitu:
1) Syariat, menyuruh atau memerintahkan hamba Allah melakukan amal ibadah secara tetap dengan syarat-syarat yang biasa menurut ajaran agama Islam.
2) Haqiqat, memandang kepatuhan dengan mata hati (bashirah), sehingga kadang-kadang nampak menyimpang atau meninggalkan jalan Allah (terlihat pada lahir saja). Ini adalah rahasia yang didasarkan kepada makna yang tiada batas (had) dan tiada arah (jihad) bagi-Nya.
3) Thariqat, melalui jalan syari’at, yaitu menjalankan segala amal syar’iyah yang mempunyai beberapa batas, misalnya seperti keadaan sembahyang (shalat).
Maka ketiga-tiganya, syariat, haqiqat, dan thariqat berhubungan erat satu sama lain. Karena semuanya itu adalah jalan menuju kepada Hadirat Allah, baik lahir maupun batin. Yang lahir itu adalah syariat dan thariqat, sedangkan yang batin adalah haqiqat.
Maksud ketiganya yaitu syariat, haqiqat, dan thariqat adalah mendirikan kehambaan yang dituntut dari setiap hamba-Nya, yaitu sesuai dengan firman Allah dalam al-Quran (Q.S Az_Zariyat : 56) :
ﻭﻣﺎ ﺨﻟﻘﺕ ﺍﻠﺟﻦ ﻭﺍﻻ ﻨﺱﺍﻻ ﻟﻴﻌﺑﺪ ﻭﻦ
Ku-menyembah mereka supaya melainkan Manusia dan Jin menciptakan tidak aku anD : Artinya

Tujuan Tasawwuf

TUJUAN TASAWWUF
Tujuan dari tasawwuf adalah “ fana ” untuk mencapai ma’rifatullah, yaitu leburnya diri pribadi pada kebaqaan Allah, dimana perasaan keinsanan lenyap diliputi rasa Ketuhanan. Dalam keadaan demikian, semua rahasia yang membatasi diri dengan Allah tersingkap (kasyaf). Ketika itulah antara diri dengan Allah menjadi satu dalam baqa-Nya tanpa “ Hulul ” dan “ Ittihad ”. Artinya tanpa bersatu antara Abid dan Ma’bud dalam pengertian seolah-olah manusia dan Tuhan adalah sama.
Yang dimaksud Fana disini adalah seluruh makhluk, dunia dan diri hilang sama sekali dari ingatan hati, karena ia tenggelam dalam kesedapan dan kelezatan ingat kepada Allah semata-mata. Dan lenyaplah kesadaran hanya kepada Allah Yang Maha Esa saja. Fana yang demikian tidak akan terjadi, melainkan ia tersyuhud kepada salah satu dari keempat unsur dibawah ini:
1) Af’al Allah
2) Asma’ Allah
3) Sifat Allah
4) Zat Allah
Apabila hati orang sufi yang telah bersih teringat kepada perbuatan Allah (Af’al Allah) atau kepada Zat Allah, niscaya datanglah ketidak-sadaran kepada dirinya dan kepada sesuatu yang lain, karena kelezatan Ingat kepada Allah. Inilah yang dinamakan Fana atau disebut juga maqam jama’.

Dalam hal Fana ini Syaidina Ali Bin Abi Thalib R.A, berkata:

ﻭﻔﻰ ﻔﻧﺎﺋﻰ ﻔﻧﺎ ﻔﻧﺎﺋﻰ ٬ ﻭﻔﻰ ﻔﻧﺎﺋﻰ ﻭﺟﺪﺖ ﺍﻧﺕ
aku bahkan itulah kefanaanku didalam tetapi ,kefanaanku leburlah ,fanaku didalam Dan " : Artinya
." (Tuhan) Engaku mendapatkan
Apabila seorang sufi telah fana, maka ketika itulah ia mengucapkan kata-kata yang ganjil dan sulit dipahami yang kadang-kadang tidak dapat diterima dengan pertimbangan akal. Karena ia bukanlah hal yang timbul dari akal semata, melainkan dari rasa. Kadang-kadang mereka berkata:
• “ Anal Haq ” (Akulah Tuhan Yang Sebenarnya)
• “ Ma fil jubabati Illallah ” (Tidak ada yang dalam Jubahku Melainkan Allah)
• “ Ana Man Ahwa, Wa Man Ahwa Ana ” (Akulah Orang Yang Kurindui, Dan Orang Yang Kurindui Ialah Aku).

Perkataan demikian menimbulkan faham orang bahwa Tuhan dan manusia berpadu menjadi satu (Ittihad). Orang yang dalam keadaan tak sadar diri (Fana) dan mengeluarkan kata-kata ganjil itu, bukan berarti dia tidur atau tidak bergerak lagi badan kasarnya, tetapi mereka selalu berjalan seperti orang sehat dan berbicara dengan orang lain, tapi ia tak sadar kepada orang itu.
Kata Ittihad itu adalah ucapan-ucapan yang menimbulkan pengertian orang, bahwa Tuhan dan manusia itu adalah satu ”. Menurut istilah Tasawwuf, bila orang-orang Shufi yang dalam keadaan fana serta mengucapkan kata-kata seperti itu dinamakan “ Wihdatul Wujud ” atau disebut Al-Ittihad. Dan dalam keadaan demikian, mereka tidak terkena hukum taklif syara’ karena akal mereka hilang dari kesadaran alam sekitarnya.
Dan setiap seorang wali pada umumnya melalui jalan ini, tapi ada yang selamat dan terhindar dari fiitnah, dan ada pula yang tidak terselamatkan seperti Shufi besar Al-Hallaj yang dijatuhi hukuman mati.
Adapun maqam Nabi dan Rasul ialah makam baqa yang sudah tercipta dari sejak awal. Jadi ia tak perlu menempuh jalan fana, seperti orang Shufi, yang dianggap oleh orang awam yang tidak tahu, sebagai orang gila.
Sebab-Sebab terjadinya ucapan seperti: “ Tidak Ada Tuhan, Melainkan Aku ” atau “ Akulah Tuhan Yang Haq ” dan sebagainya. Pengucapan demikian sebenarnya mencerminkan apa yang sebenarnya dari Allah, bukan berarti dia mengaku dirinya sebagai Tuhan yang dapat menciptakan alam semesta ini. Dalam kaitan ini, bukankah kita pernah membaca ayat al-Quran (Q.S Thaha:14)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا
Aku Selain Tuhan Ada Tidak ,Allah Adalah Ini Aku Sesungghnya : Artinya

Ini berarti perkataan “ Aku ” bagi pembaca ayat ini, mengaku dirinya sebagai Tuhan, padahal itu adalah menceritakan apa yang sebenarnya daripada kalam Allah (Al-Quran) itu sendiri.
Fana adalah merupakan pintu masuk untuk menemukan Allah (Liqa Allah) bagi orang-orang yang benar-benar mempunyai keinginan yang kuat bertemu Allah, perhatikanlah Firman-Nya (Q.S Al-Kahfi:10)